TUGAS FISIKA DASAR
NAMA : BANI HABIBI
KELAS :
TEKNIK INFORMATIKA SORE A
MATA
KULIAH : FISIKA DASAAR
Metode
Penentuan Kadar Nitrogen
Metode Penentuan Kadar Nitrogen
Metode analitik yang paling umum
digunakan dalam penentuan kadar nitrogen adalah metode Kjeldahl. Metode
tersebut diperkenalkan oleh Johan Kjeldahl pada tahun 1883. Metode ini dapat
diterapkan pada senyawa-senyawa organik maupun anorganik meliputi makanan,
daging, biji-bijian, air limbah, tanah dan banyak sampel yang lainnya.
Peralatan Keldahl (modern)
1.1.1 Metode
Kjeldahl
Metode Kjeldahl merupakan metode
yang digunakan untuk menentukan kadar nitrogen dalam senyawa organik maupun
senyawa anorganik. Metode ini telah mengalami perubahan secara teknis dan pada
peralatannya selama lebih dari 100 tahun sejak diperkenalkan, namun secara
mendasar, prinsip yang digunakan tetaplah sama. Metode Kjeldahl dapat dibagi
menjadi tiga tahap utama, yakni:
1. Digesi (Digestion)
Tahap digesi merupakan tahap
dekomposisi nitrogen dalam sampel menggunakan asam pekat. Tahap ini
disempurnakan dengan mendidihkan sampel pada asam sulfat pekat. Hasil akhir
digesi merupakan larutan amonium sulfat.
2. Distilasi (Distillation)
Merupakan tahap penambahan basa
berlebih ke dalam larutan digesi untuk mengubah NH4+ menjadi
NH3 yang diikuti pemanasan dan kondensasi gas NH3 pada
larutan penerima.
3. Titrasi
(Titration)
Tahap ini bertujuan untuk
mengetahui jumlah amoniak dalam larutan penerima. Jumlah nitrogen dapat
dihitung dari jumlah ion amonia di dalam larutan penerima tersebut.
Beberapa kondisi tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1.1.2 Tahap Digesi
Persamaan umum untuk proses
digesi ditunjukkan melalui persamaan 3.1 di bawah ini
N organik/anorganik + H2SO4à (NH4)2SO4
+ H2O + CO2 + hasil samping (3.1)
Sejumlah kondisi internal digesi
sangat menentukan laju reaksi dan kesempurnaan pemecahan nitrogen menjadi
amonium sulfat. Beberapa diantara
kondisi tersebut antara lain adalah pemanasan yang diberikan pada campuran
digesi, penambahan sejumlah garam untuk meningkatkan titik didih asam, laju
refluks asam sulfat pada leher labu digesi, lama digesi dan penambahan katalis.
Pengaturan salah satu kondisi tersebut akan sangat berpengaruh pada kondisi
yang lain. Kondisi digesi yang baik diperoleh dengan menyeimbangkan
faktor-faktor tersebut dalam suatu pola yang terkontrol dan berulang. Jika
suatu sampel mengandung nitrogen nitrat atau nitrit, maka perlu dilakukan
perlakuan awal secara kimiawi untuk ikut memasukkan atau mengeluarkan sumber
nitrogen pada analisa yang dilakukan.
a. Pertimbangan Asam
Asam sulfat telah lama digunakan
untuk proses digesi sampel. Jumlah asam yang digunakan dipengaruhi oleh ukuran
dan jumlah sampel yang juga menunjukkan
jumlah nitrogen. Sampel yang banyak tentu membutuhkan jumlah asam yang lebih
banyak pula. Selain itu, lama pemanasan
dan suhu yang diberikan juga berpengaruh terhadap jumlah asam yang
hilang akibat penguapan.
b. Suhu Pemanasan dan Lama
Digesi
Unsur pemanasan yang digunakan
pada digesi Kjeldahl meliputi beberapa variasi pengaturan. Suhu pemanasan yang
digunakan umumnya berpatokan pada suhu yang dapat menyebabkan “250 ml air yang
suhunya 25 °C dapat mendidih dalam waktu lima menit”.
Sampel organik umumnya menjadi
hitam dan berarang selama proses digesi ini. Reaksinya dapat berjalan hebat
pada permulaan tergantung pada matriks dan suhu pemanasan. Namun lama kelamaan
campuran digesi menjadi jernih karena terjadinya pembentukan CO2
akibat dekomposisi organik. Keberadaan ion logam dapat memberikan warna pada
campuran digesi. Hal yang perlu diperhatikan adalah jernihnya larutan tidak
menunjukkan semua nitrogen organik telah terpecah.
1.1.3 Proses Distilasi
Campuran digesi selanjutnya
diencerkan dan dibasakan melalui penambahan NaOH. Proses distilasi ini
menghasilkan NH3 menurut persamaan 3.2 :
(NH4)2SO4 + 2NaOH à 2NH3 + Na2SO4
+ 2H2O (3.2)
Labu Kjeldahl ditempatkan pada
kondensor air dan dipanaskan untuk menguapkan gas NH3 dari larutan.
Ujung kondensor yang dihubungkan dengan labu yang berisi larutan penerima yang
berupa asam, baik berupa asam standar maupun asam borat. Parlakuan ini
dilakukan untuk menangkap NH3 yang teruapkan.
a. Pengenceran Larutan
Digesi
Campuran asam digesi biasanya
didinginkan dan diencerkan dengan air yang bebas amonia. Pengenceran campuran digesi
juga bertujuan untuk mencegah terjadinya ledakan selama proses distilasi.
Pencegahan ledakan juga bisa dilakukan dengan menambahkan batu didih pada
larutan digesi, sementara itu penambahan dua atau tiga tetes tributil sitrat
bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya busa.
b. Penambahan NaOH
NaOH pekat (biasanya larutan NaOH
50%) ditambahkan secara perlahan ke dalam larutan yang akan didistilasi.
Umumnya, untuk tiap 5 ml asam sulfat pekat larutan digesi, dibutuhkan 20 ml
NaOH 50% untuk membuat larutan menjadi bersifat basa kuat. Labu dihubungkan
dengan kondensor sebelum proses pemanasan dan distilasi dilakukan. Untuk sampel
yang tidak memerlukan proses digesi seperti penentuan amoniak secara langsung
dalam air, sampel disangga pada pH 9,5 dengan larutan natrium tetraborat dan
natrium hidroksida untuk mengurangi hidrolisis senyawa kompleks nitrogen
organik yang ada.
c. Distilasi
Sebagian besar NH3
didistilasi dan terperangkap ke dalam larutan asam penangkap selama 5 sampai 10
menit awal pemanasan. Tetapi, tergantung pada volume campuran digesi dan metode
yang digunakan, 15 sampai 150 ml kondensat dapat dikumpulkan dalam labu
penerima untuk memastikan didapatnya kembali nitrogen. Perpanjangan waktu
distilasi dan volume yang dikumpulkan menghasilkan lebih banyak air yang juga
akan tertampung pada larutan penerima. Namun kelebihan air ini tidak akan
memperngaruhi hasil titrasi. Waktu distilasi dan volume distilat yang
dikumpulkan harus distandarisasi. Laju distilasi dipengaruhi oleh kapasitas
pendinginan dari kondensor dan suhu air pendingin.
Peralatan prakondisi diperlukan
katika sampel yang akan ditentukan kadar nitrogennya memiliki kadar nitrogen
yang sangat kecil sebelum sampel tersebut didistilasi. Hal ini dapat dilakukan
dengan mendistilasi campuran air bebas amonia dan NaOH 50% denganperbandingan
1:1 selama 5 menit sebelum sampel didistilasi untuk mengurangi kontaminasi dari
amonia di atmosfer.
d. Larutan Penerima
Larutan yang digunakan sebagai
larutan untuk menangkap amonia merupakan asam yang bisa berupa asam standar
ataupun asam borat. Jika yang digunakan sebagai larutan penerima adalah HCl
atau H2SO4, maka akan lebih baik jika hanya ada sedikit
kelebihan asam yang tertinggal setelah NH3 didistilasi dan
terperangkap untuk menghindari titrasi balik. Dengan mengantisipasi jumlah
nitrogen dalam sampel. Jumlah target asam standar dapat dihitung menurut
persamaan 3.3 :
Konsentrasi yang tepat
tidak terlalu dibutuhkan jika larutan penerima yang digunakan adalah asam
borat. Hal ini karena proses titrasi langsung menghitung jumlah amonia dalam
larutan distilat dengan menetralkan kompleks yang terbentuk antara amonia dan
asam borat (perbandingan 1:1). Jumlah asam borat yang banyak bisa ditambahkan
pada larutan penerima sehingga absorpsi amonia dapat berlangsung dengan
sempurna.
Volume larutan penerima dapat
ditingkatkan dengan menambahkan air bebas amonia sehingga ujung pipa pengantar
bisa tercelup ke larutan tersebut. Pipa pegantar harus selalu dibilas ke dalam
labu penerima sesaat sebelum labu tersebut dipindahkan dari perangkat
distilasi. Larutan penerima harus berada pada suhu 45 C selama proses distilasi
untuk mencegah hilangnya amonia.
1.1.4 Proses Titrasi
Terdapat dua macam titrasi yang
digunakan pada proses Kjeldahl, yakni titrasi balik yang biasanya digunakan
pada Kjeldahl Makro dan titrasi langsung. Kedua metode tersebut mengindikasikan
keberadaan amonia dalam air distilat dengan menunjukkan perubahan warna dan
memungkinkan dilakukannya perhitungan konsentrasi.
a. Penentuan Nitrogen
Melalui Titrasi Balik
Pada titrasi balik, amonia
ditangkap dengan larutan asam yang telah distandarisasi dengan sangat tepat
pada labu penerima. Kelebihan asam pada larutan penerima menjaga pHnya tetap
rendah sehingga indikator tidak berubah warna.
2NH3 + 2H2SO4 à (NH4)2SO4
+ H2SO4 (3.4)
Kelebihan larutan asam kemudian
dinetralkan dengan larutan basa yang telah distandarisasi dengan tepat misalnya
basa NaOH. Perubahan warna terjadi ketika titrasi mencapai titik akhirnya.
(NH4)2SO4 + H2SO4
+ 2NaOH à (Na)2SO4 + (NH4)2SO4
+ 2H2O (3.5)
b. Penentuan Nitrogen
Melalui Titrasi Langsung
Titrasi langsung dilakukan dengan
menggunakan asam borat sebagai larutan penerimanya. Reaksi yang terjadi pada titrasi ini adalah:
NH3 + H3BO3à NH4+:H2BO3-
+ H3BO3 (3.6)
Asam borat menangkap gas amonia
dan membentuk kompleks borat. Setelah amonia terkumpulkan, maka warna larutan
penerima akan berubah.
2NH4H2BO3- + H2SO4à NH4+:H2BO3-
+ H3BO3 (3.7)
Penambahan asam sulfat
menetralkan kompleks amonium borat sehingga perubahan warna terjadi.
Metode asam borat ini memiliki
dua kelebihan yakni hanya membutuhkan satu larutan standar untuk proses
penentuan kadar nitrogen dan larutan memiliki waktu hidup yang lama.
a. Indikator
Beberapa indikator yang berbeda
telah digunakan untuk dapat memberikan perbedaan warna yang mencolok selama
proses titrasi. Analis biasanya menggunakan indikator yang spesifik dan hal ini
sangat terganting pada pilihan personal. Namun demikian, indikator yang sering
digunakan adalah campuran dari metil merah dan metilen biru. Indikator harus
memiliki trayek pH perubahan wrana dimana titik ekivalen titrasi terjadi.
b. Perhitungan
Perhitungan kadar nitrogen harus
disesuaikan dengan larutan penerima yang digunakan dan faktor pengenceran
selama proses distilasi. Pada persamaan di bawah, “N” menunjukkan normalitas.
“ml blank‘ adalah mililiter yang diperlukan untuk titrasi balik reagen blank
jika yang digunakan adalah asam standar, atau menunjukkan mililiter asam
standar yang dibutuhkan untuk mentitrasi larutan penerima. Ketika asam standar
digunakan sebagai larutan penerima, persamaan yang digunakan adalah
Jika berat sampel berupa
miligram, berat molekul nitrogen harus diubah menjadi 1400,67.
Ketika asam borat digunakan
sebagai larutan penerima, maka persamaan yang digunakan adalah:
KANTUNG UDARA (Airbag)
Airbag adalah perangkat
keamanan yang terdiri dari sebuah tas kain besar yang berisi udara dan
memberikan perlindungan bagi kepala dan tubuh bagian atas pengemudi selama
tabrakan.
Dalam tabrakan dari depan
(head-on collision), biasanya pengemudi dan penumpang akan terlempar ke depan
di dalam kendaraan. Ketika airbag diaktifkan, airbag langsung mengembang
dan menciptakan penghalang
yang melawan atau meredam gerakan maju dari pengemudi atau penumpang depan.
Kantung udara tersebut
dibuat untuk mencegah pengemudi atau penumpang depan menabrak kaca depan atau
dashboard kendaraan, sehingga mengurangi cedera mereka. Airbag juga dikenal
sebagai sistem pengendalian tambahan (SRS, supplemental restrain system), atau
pembatasan tambahan karet (SIR, supplemental inflatable restrain).
Kantung udara (airbag)
dirancang untuk bekerja bersama dengan sabuk pengaman. Namun, kantung udara
sendiri dapat memberikan perlindungan bagi kendaraan penghuni yang tidak
mengenakan sabuk pengaman.
Pada tahun 2002 lebih dari
60 persen dari semua kendaraan di Amerika Serikat telah dilengkapi dengan
kantung udara untuk pengemudi. Administrasi Keselamatan dan Lalu Lintas Jalan
Raya Nasional (NHTSA, National Highway Traffic and Safety Administration)
memperkirakan bahwa pada tahun 2002, airbag telah menyelamatkan nyawa lebih
dari 9.000 orang di Amerika Serikat.
Jenis – Jenis Kantung
Udara
Ada beberapa jenis kantung
udara, yakni:
Airbag yang disimpan di
dalam setir mobil.
Airbag ini akan mengembang selama tabrakan frontal untuk
mencegah sopir menabrak kemudi atau dashboard. Sebuah airbag untuk penumpang
disimpan di dalam panel instrumen atau dashboard. Kantung ini mengembang selama
tabrakan frontal untuk mencegah kepala penumpang depan memukul kaca
depan/dashboard.
Kantung udara penumpang lebih besar daripada airbag
pengemudi dan memiliki bentuk yang berbeda.
Airbag yang disimpan di
samping.
Beberapa kendaraan juga memiliki airbag samping di dalam
pintu, arm rest, kursi depan, atau tempat duduk belakang. airbag samping akan
mengembang saat terjadi tabrakan di samping.
Kantung udara dari atas jendela samping untuk
perlindungan tambahan dalam benturan samping.
Namun, semua Airbag tampaknya tidak dirancang untuk
menggelembung atau untuk melindungi penumpang dalam benturan belakang atau
rollovers.
Proses Kerja Pada Kantung
Udara
Kondisi yang memicu
menggelembungnya Airbag
Mobil yang dilengkapi dengan airbag, berarti memiliki
sensor “MEMS accelerometer” yang merupakan IC(integrated circuit) kecil. Sensor
ini bekerja dengan mendeteksi rapid-deceleration (perlambatan yang terlalu
cepat, CMIIW), yang kemudian memerintahkan sistem untuk menggelembungkan airbag.
Pengembangan/penggelembungan airbag dalam tabrakan,
paling tidak sama dengan perlambatan dengan nilai 23 km/jam (14 mph), atau bisa
disamakan dengan menabrak mobil dengan ukuran yang sama dengan sistem adu
jangkrik (bagian depan masing-masing kendaraan pada kecepatan 2x dari mobil
satunya lagi) . Tidak seperti test tabrakan pada dinding penghalang, tabrakan
sebenarnya biasanya terjadi pada sudut-sudut selain bagian depan mobil
(full-front), dan gaya dari tabrakan biasanya tidak disebarkan ke seluruh
bagian depan mobil dimana sensor itu berada. Akibatnya, kecepatan relatif
antara mobil yang menabrak dan yang ditabrak yang dibutuhkan untuk
menggelembungkan airbag dalam tabrakan sebenarnya bisa lebih tinggi dari
persamaan tabrakan dinding. Karena sensor airbag mengukur perlambatan,
kecepatan mobil dan kerusakan bukanlah indikator yang bagus untuk kapan airbag
harusnya menggelembung. Airbag bisa menggelembung saat mobil dengan keadaan
under-carriage (beban kurang, tidak ada penumpang) menabrak objek rendah yang
menonjol diatas jalan yang bisa menyebabkan perlambatan.
Proses Penggelembungan
Airbag (inflating)
Saat airbag akan menggelembung, sebuah sinyal dikirim ke
unit inflator dalam airbag control unit. Sebuah igniter atau penyulut, menyulut
sebuah reaksi kimia yang sangat cepat dan menghasilkan gas nitrogen (N2) untuk
mengisi airbag dan membuatnya menggelembung menerobos cover dari modul airbag.
Beberapa teknologi airbag menggunakan nitrogen
terkompresi atau gas argon dengan sebuah
pyrotechnic
operated valve (“hybrid gas generator”). Ada juga yang memakai sodium azide
(yang sangat beracun (sangat biasa pada desain inflator lawas), namun sudah
tidak digunakan lagi sejak 90-an dalam pengembangan yang menjurus ke efisiensi,
lebih murah dan kurang beracun.
Proses pengempesan Airbag
(deflating)
Reaksi kimia menghasilkan ledakan nitrogen disengaja
untuk mengembangkan airbag. Setelah airbag terkembang, deflasi dimulai segera
saat gas keluar melalui lubang dalam kain (pori-pori kain) dan mendingin.
Pengembangan sering disertai dengan pelepasan partikel seperti debu dan gas
dari dalam interior kendaraan (disebut efluen).
Sebagian besar debu ini terdiri dari tepung jagung, kapur
perancis, atau bedak talc, yang digunakan untuk melumasi airbag selama
deployment/inflasi. Desain yang terbaru menghasilkan limbah utama terdiri dari
bedak/tepung jagung dan gas nitrogen yang tidak berbahaya. Dalam desain yang
lebih tua
digunakan
propelan berbasis azida (biasanya), berbagai jumlah sodium hidroksida ada
awalnya hampir selalu hadir.
Dalam jumlah kecil kimia ini dapat menyebabkan iritasi
kecil untuk mata atau luka terbuka, namun dengan pemaparan ke udara, dengan
cepat berubah menjadi natrium bikarbonat (baking soda). Namun, transformasi ini
tidak 100% selesai, dan selalu menyisakan jumlah sisa ion hidroksida dari NaOH.
Tergantung pada jenis sistem airbag, kalium klorida (sering digunakan sebagai
pengganti garam meja) juga bias saja ada.
Bagi kebanyakan orang, efek yang muncul mungkin hanya
debu yang menyebabkan iritasi minor pada tenggorokan dan mata. Secara umum,
gangguan kecil hanya terjadi ketika penghuni tetap dalam kendaraan selama
beberapa menit dengan jendela tertutup dan tidak ada ventilasi.
Peranan Sains dalam
Pembuatan Kantung Udara
Kantung udara ternyata tidak
seperti balon udara biasa. Ada reaksi yang bekerja di dalamnya.Kantung ini yang
penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan. Kecelakaan di jalan raya sering
menelan banyak nyawa. Kebanyakan karena faktor manusia. Namun, ada juga yang
disebabkan oleh faktor peralatan pada kendaraan. Melengkapi peralatan standar
mobil setidaknya bisa mengurangi risiko tinggi. Di mobil,sabuk pengaman dan
kantong udara adalah pengaman-pengaman yang wajib ada.
Hukum Newton dan Pengamanan
Dalam hukum Newton I yang
intinya suatu benda akan cenderung tetap pada kecepatan yang sama (yang diam
akan tetap diam, yang bergerak dengan kecepatan tertentu akan tetap bergerak
dengan kecepatan itu), kecuali ada gaya luar yang mempengaruhi.
Saat terjadi tabrakan,hukum ini jelas berlaku.Saat
sebelum terjadi tabrakan, orang yang ada di kendaraan bergerak dengan kecepatan
tertentu akibat mobilnya bergerak.Sesaat setelah tabrakan terjadi, orang tadi
tentu akan bertabrakan dengan bagian mobil di hadapannya, bagi sopir tentu
setirnya, dan akhirnya berhenti bergerak.Jadi, pasti ada gaya yang bekerja pada
orang tersebut.Kecelakaan parah terjadi bila kendaraan bertabrakan saat
kecepatan tinggi karena perubahan kecepatan besar yang berarti gaya yang
bekerja pada orang tersebut besar.
Untuk meminimalkan cedera
akibat tumbukan itu, kantong udara dan sabuk pengaman digunakan. Kantong udara
melakukannya dengan memberikan bantalan untuk menurunkan besarnya gaya yang
bekerja pada korban dan mendistribusikan gaya itu pada permukaan yang lebih
luas. Bantalan tadi dihasilkan dengan menggembungkan kantung udara dengan gas
N2. Kemudian, ketika orang menumbuk kantung udara yang berisi gas tadi,
perlahan gas keluar dari kantung.
Gaya bekerja pada orang dalam
kendaraan yang bertabrakan.Dari hukum Newton II, gaya sebanding dengan
percepatan, yakni perubahan kecepatan per satuan waktu. Jika perubahan
kecepatan (dari bergerak hingga diam) terjadi dalam waktu yang singkat,
percepatan besar sekali. Dengan demikian, gaya juga besar sekali, cedera akan
parah. Sebaliknya, bila perubahan kecepatan bisa dibuat untuk jangka waktu yang
lebih lama, percepatan tidak terlalu besar, gaya yang bekerja tidak terlalu
besar, harapannya cederanya tidak parah atau selamat.
Selain itu, kantung udara meminimalkan cedera dengan
mendistribusikan gaya itu pada permukaan yang lebih luas. Bila tubuh
bertabrakan langsung dengan setir, semua gaya akan bekerja hanya pada bagian
tubuh seukuran setir (Gambar 1a), cedera yang serius dapat terjadi. Namun, bila
tubuh bertubrukan dengan kantung udara yang telah menggembung, gaya akan
bekerja pada permukaan yang lebih luas (Gambar 1b), gaya yang bekerja pada
bagian tertentu tubuh menjadi lebih kecil dan cederanya pun menjadi lebih ringan
atau terbebas sama sekali.
Proses Kimia Dalam Kantung Udara
Kantung udara di mobil menggunakan padatan yang
menghasilkan gas. Kebanyakan kantong udara menggunakan natrium azida,
. Dalam
kecelakaan mobil, sensor tabrakan akan mengaktifkan rangkaian yang akan
menyebabkan natrium azida terbakar dan terurai (terdekomposisi) menghasilkan
natrium dan gas nitrogen, yang dengan cepat dapat menggembungkan kantong
udaranya (Gambar 2).
Walaupun komposisi
persisnya merupakan rahasia perusahaan, campuran yang paling populer adalah
campuran yang terdiri atas natrium azida (Na3), kalium nitrat (KNO3), dan
silikon dioksida (SiO2) sebagai reaktan sekunder. Dengan rangsangan listrik
NaN3 akan terurai sesuai reaksi:
2 NaN3 (s) ==> 2
Na (s) + 3N2 (g)
Logam natrium (Na), produk
samping produksi gas nitrogen yang menggembungkan kantong udara itu, adalah
logam yang sangat reaktif. Seperti barangkali pernah ditunjukkan oleh guru di
sekolah, sebutir kecil natrium yang dijatuhkan ke air akan menghasilkan api
yang cukup hebat. Untuk itulah kalium nitrat ditambahkan, kalium nitrat dan
natrium akan bereaksi menghasilkan lagi gas nitrogen:
10 Na (s) + 2 KNO3 (s) ==>
K2O (s) + 5 Na2O (s) + N2 (g).
Kalium oksida (K2O) dan
natrium oksida (Na2O) akan bereaksi dengan senyawa ketiga dalam komposisi
kantong udara, yakni silikon dioksida (SiO2), untuk membentuk alkali silikat,
zat yang tidak reaktif dan tidak berbahaya bila dibuang.
Fungsi Kantung Udara
Kantung udara efektif
untuk :
1.Menghindari patah tulang
rusuk
2.Menghindari kerusakan
organ dalam serta luka memar pada anak-anak
3.Berfungsi sebagai
pelindung dada dan perut
4.Berfungsi untuk
melindungi kepala dan wajah
5.Mampu mengurangi risiko
cedera ginjal
6.Mencegah sopir menabrak
kemudi atau dashboard.
7.Mencegah kepala
penumpang depan memukul kaca depan/dashboard.
SENSOR
KONTROL MESIN
Tuntutan untuk memeriksa
komposisi gas buang untuk membatasi polusi lalu lintas perkotaan dan untuk
mengurangi konsumsi memaksa penerapan sistem kontrol mesin elektronik.
Pada awal, sistem kontrol
elektronik termasuk sistem terpisah memeriksa pasokan, waktu, pengapian dan
resirkulasi gas buang. Sistem kontrol saat ini telah berkembang menuju suatu
sistem yang terintegrasi di mana setiap subsistem tunggal adalah bagian yang
berbeda dari unit yang sama. Pengukuran dibuat oleh sensor, mewakili input dari
jenis sistem, adalah:
-
kuantitas
aliran udara; kecepatan poros penggerak, posisi sudut poros penggerak
-
konsentrasi
oksigen di gas buang, suhu pendingin;
-
posisi katup throttle.
-
Sensor utama
melakukan pengukuran ini akan dijelaskan, Parti-cularly yang sedang diteliti di
laboratorium penelitian dan pengembangan.
1.
Jumlah aliran udara
Pengukuran aliran udara dapat dibuat baik tidak
langsung dengan menggunakan sensor tekanan ditempatkan di intake manifold
terintegrasi dengan sensor suhu dan langsung melalui sensor aliran massa udara.
Dalam kasus pertama tekanan manifold dan pengukuran suhu yang digunakan untuk
menghitung kerapatan udara (δ) yang berhubungan dengan mesin putaran/menit (w), volume aliran udara pada setiap
siklus mesin (D) dan efisiensi
volumetrik mesin (NV),
memungkinkan perhitungan kuantitas udara diinjeksikan ke dalam silinder sesuai
dengan persamaan berikut :
Sensor tekanan saat ini digunakan didasarkan pada
pengukuran menggunakan deformasi membran, misalnya, elemen piezoresistant.
Prinsip pengukuran telah diimplementasikan di masa lalu dengan perangkat
elektromekanis [1], dan telah berkembang dengan penerapan teknologi
tipis dan tebal [2] dan micromachining silikon [3]. Namun, produsen sistem
elektronik saat ini berorientasi pada pengukuran aliran udara langsung memungkinkan
pengukuran presisi yang lebih tinggi dan pengurangan waktu respon. Prinsip
pengukuran yang didasarkan sensor ini adalah varian dari aliran udara klasik
sensor dikenal sebagai hot-wire anemometer yang digunakan di meteorologi untuk
mengukur kecepatan angin.

Gambar 1 : Hot-wire sensor aliran
massa udara
(a) rangkaian : RX= pengukuran resistor, RH = kawat panas (film); UM = output; sensor (b): 1,
sirkuit hibrida, 2, 3, kasus; 4, tabung venturi dengan kawat panas (film), 5
saluran, 6, grid, 7, O-ring.
Dalam sensor (Gambar 1b), kawat panas digantikan oleh
film panas pada substrat keramik. Film harus diproduksi dengan logam yang
koefisien hambatan untuk variasi termal tinggi, biasanya platinum. Aliran udara
ini diatur pada sisi lubang masuk dengan elemen yang menghasilkan aliran
laminar pada film yang sensitif. Unsur resistif dapat dipasang atau
direalisasikan pada substrat yang sama dengan pendingin elektronik.
Film panas dipanaskan elektrik pada temperatur sedikit
lebih tinggi daripada udara intake. Suhu dideteksi dengan sensor atau dengan
film kedua yang resistensi diukur. Hot-film dan sensor suhu dimasukkan ke dalam
sirkuit jembatan Wheatstone. Tegangan suplai jembatan disediakan oleh
amplifier. Ketika udara panas lap elemen-film, ini cenderung dingin. Jumlah
panas yang dibuang dari udara yang bergerak secara langsung tergantung pada
kapasitas massa. Variasi pada suhu film mempengaruhi hambatan listrik sirkuit.
Rangkaian jembatan (Gambar 1a) tidak seimbang dan
menghasilkan tegangan di terminal penguat. Output penguat dihubungkan dengan
tegangan suplai jembatan sehingga untuk menyeimbangkan lagi. Dengan demikian
tegangan suplai jembatan adalah sinyal yang tergantung langsung pada massa
aliran udara. perangkat Lancar [4, 5] biasanya memiliki keluaran frekuensi yang
bahkan untuk mikrokontroler normal dengan konverter 8-bit A/D, memungkinkan
deteksi sinyal dengan presisi yang diperlukan di seluruh rentang variasi, yang
dapat mencapai 90:1 di kasus mesin turbocharged.
prinsip-prinsip yang ada aliran udara lain untuk
pengukuran massa telah digunakan untuk membangun prototipe eksperimental atau
instrumen laboratorium. Di antaranya adalah sensor baling-baling yang
didasarkan pada pengukuran perpindahan dari baling-baling langsung terkena
sensor aliran udara dan sensors ultrasound[6] yang menggunakan pengukuran waktu penerbangan di
dalam aliran.
2. Poros penggerak kecepatan dan posisi sudut
Posisi pengerak poros dan kecepatan adalah informasi
penting untuk mengendalikan mesin karena mereka merupakan basis waktu nya.
Kedua kuantitas diukur dengan mendeteksi bagian ini,
untuk titik tetap relatif ke mesin, dari unsur referensi pada disk feromagnetik berputar dengan poros.
Deteksi adalah dengan cara sensor yang cocok yang memasok sinyal impuls frekuensi yang sebanding dengan
kecepatan.
Saat ini sensor yang paling sering digunakan adalah
sensor induktif dengan magnet permanen. Magnetorcsistance
[7] atau Hall-efek [8] sensor juga
digunakan, selalu dengan magnet permanen. Yang terakhir ini memungkinkan
deteksi referensi di hampir kondisi statis dan apalagi sinyal amplitudo tidak
tergantung pada kecepatan rotasi poros penggerak.
Sebuah teknik inovatif [9] adalah penempatan referensi
magnetik langsung pada material komponen putar. Keuntungan utama dari metode
ini adalah penggunaan non-roda bergigi. Dalam hal ini deteksi kasus harus
dibuat dengan sensor Hall-effect
tanpa sebuah magnet permanen.
3. Konsentrasi Oksigen dalam gas buang
Dalam rangka memenuhi standar yang ketat yang terus
meningkat pada polusi emisi, sudah diperlukan untuk mengadopsi umpan balik
sistem mesin kontrol.
Ada dua strategi utama dari kontrol umpan balik mesin
saat ini diadopsi pada kendaraan. Salah satunya adalah dikenal sebagai sistem
konverter katalitik tiga arah. Hal ini diperkenalkan oleh Volvo [10] dan ini
adalah yang paling luas di Eropa, Amerika dan Asia.
Pada sistem ini udara/bahan bakar (A/F) rasio pada gas
buang dideteksi oleh sensor oksigen dan dikendalikan sedemikian rupa untuk
selalu sekitar rasio stoikiometri dari 14,7 (Gambar 2). Dalam kondisi ini catalytic converter tiga cara adalah
dengan efisiensi maksimum dan menghilangkan senyawa polusi (HC, CO, NOx) dengan
membuat mereka bereaksi secara kimia dengan oksigen, sehingga respon sensor
oksigen harus sangat cepat dan tepat, terutama di perbandingan konsentrasi
kondisi stoikiometri.
Sistem strategi pengendalian mesin lainnya, yang
disebut sistem pembakaran bersandar, dimasukkan ke dalam penggunaan praktis
oleh beberapa produsen Jepang [11, 12].

Gambar
2 : Catalytic converter efisiensi dan
Sebuah rasio A/F
Tujuannya adalah untuk
meningkatkan ekonomis bahan bakar dan untuk menjaga tingkat emisi dibawah batas
ambang. Hal ini didasarkan pada pengurangan komponen polusi di rasio tinggi
A/F. Hal ini diperlukan untuk menjaga rasio A/F dalam rentang yang terbatas
dalam rangka menjaga emisi di bawah batas dan untuk menghindari tembak. Untuk
tujuan ini, digunakan sebuah sensor oksigen. Dari sudut pandang operasi fitur,
sensor oksigen dapat dibagi menjadi tiga kelompok :
1. semikonduktor oksida atau sensor
chemioresistive;
2. konsentrasi sel sensor;
3. sensor pompa elektrokimia.
Dari sudut pandang aplikasi,
mereka dapat dikelompokkan dalam dua set saja :
1. stoikiometri sensor;
2. ramping campuran sensor.
Sensor Stoikiometri digunakan
dalam sistem katalitik dan biasanya memberikan respon nyaris on-off jika rasio
konsentrasi gas buang pergi dari nilai yang lebih rendah dari 14,7 ke yang
lebih tinggi. Sensor yang digunakan dalam sistem pembakaran ramping memiliki
respon proporsional dalam kisaran antara 15 dan 23 Sebuah rasio A/F
Chemioresistive dan sensor konsentrasi sel adalah jenis stoikiometri sementara
yang elektrokimia adalah untuk campuran ramping.
4. Chemioresistive
sensor (Gambar 3)
Hambatan listrik beberapa
semikonduktor oksida bervariasi dengan tekanan oksigen parsial. Fenomena ini
disebabkan oleh oksidasi atau reduksi oksida oleh 02, Oksida
berperilaku seperti semikonduktor p atau tipe-n sesuai dengan karakteristik
kimia dan dapat didoping dengan bahan yang berfungsi sebagai donor atau
akseptor atau dapat berfungsi sebagai katalis reaksi antara oksida dan oksigen
sehingga dapat menurunkan suhu operasi.
Dalam kasus semikonduktor tipe-n,
dalam total ketiadaan oksigen, elektron bebas bergerak, yang memungkinkan
materi untuk memiliki hambatan listrik yang cukup rendah. Karakteristik ini
dapat diperoleh hanya pada suhu tinggi (sekitar 700'C) sehingga memungkinkan
transisi clcctron dari valcncy ke pita konduksi.

Gambar
3 : Gas Chemioresistive film tebal knalpot sensor oksigen.
Ketika bahan konsentrasi oksigen
kecil hadir dalam campuran gas yang bahan yang terkena, ada peningkatan segera
dan cukup dalam tahanan. Fenomena ini karena pembawa muatan imobilisasi pada
permukaan material oleh molekul oksigen. Dengan memonitor granulometry dari
elemen sensitif [13] adalah mungkin untuk bervariasi sensitivitas sensor.
Ketika gas mengurangi dan oksigen hadir dalam campuran gas mereka bereaksi satu
sama lain. Hanya kelebihan oksigen bereaksi dengan oksida semikonduktor,
menentukan tahanan tersebut. Sebaliknya, jika mengurangi gas yang berlebihan,
perlawanan semikonduktor akan bahwa bahan tanpa adanya oksigen. Oleh karena
itu, dalam perubahan dari kondisi mengurangi gas berlebih (kaya) ke kondisi
oksigen berlebih (miskin) resistivitas semikonduktor oksida sangat bervariasi.
Bahan-bahan ini memungkinkan
realisasi perangkat dengan sangat sederhana, ukuran kecil, struktur murah
menggunakan teknologi film tebal atau tipis pada substrat keramik.
Pada keadaan sekarang seni,
sensor titania saja (Ti02), seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 4, telah sepenuhnya dikembangkan dan di pasar meskipun belum ada spread
besar dari mereka sampai sekarang. Selain memiliki karakteristik
chemioresistive baik, bahan ini telah menunjukkan dirinya lebih tahan untuk memimpin
pencemaran [14]. Awalnya ini jenis sensor terdiri dari dua elektroda dan
deposisi Ti02 [15]. Kemudian sensor dengan elemen pemanas
dikembangkan [16].
Kinerja, dari segi biaya dan
implementasi yang mudah, bahwa sensor jenis ini memungkinkan kita untuk
mencapai kepentingan tetap hidup dalam prinsip pengukuran ini. Baru-baru ini,
bahan alternatif, seperti Ga203 [17], SrTi03
dan BaTi03 [18,19], telah dikembangkan dalam bentuk film
tipis.

Gambar 4 : Titania gas buang
sensor oksigen
1. kontak, 2. insulator keramik,
3. konduktor (kawat), 4. kasus (baja), 5. elemen sensing (Ti02),
6. pelindung.

Gambar 5 : lambda Zirkonia sensor
film tebal.

Gambar 6 : Zirkonia lambda sensor
1. kawat, 2. insulator, 3.
pelindung, 4. kontak listrik (pegas), 5. elemen sensing keramik (Zr02);
6. pelindung, 7. film platinum dan lapisan pelindung, 8. internal konduktor; 9.
kasus (baja).
5. Konsentrasi sel
sensor (Gambar 5)
Konsentrasi sel sensor didasarkan
pada sifat elektrokimia zirkonia (ZrOz) [20]. Jenis sensor adalah yang pertama
yang akan disajikan di pasar dan adalah yang paling banyak digunakan. Sensor
ini juga dikenal sebagai lambda probe; nama ini berasal dari rasio :

yang umum digunakan dalam bidang
otomotif.
Jika elemen oksida zirkonia memiliki dua permukaan
terkena gas dengan konsentrasi oksigen yang berbeda, menghasilkan tegangan
antara mereka. Yang terkena konsentrasi oksigen yang lebih besar pada potensial
negatif, sementara yang lain pada potensial positif. Perilaku ini meningkat
pada suhu tinggi. Fisika dari fenomena ini masih belum dipahami dengan baik di
semua rincian [21,22].
Struktur sensor semacam ini awalnya sederhana, yang
terdiri dari dua elektroda pada substrat zirkonia [23,24]. Selanjutnya pemanas
[25] telah ditambahkan ke dalam struktur ini. perkembangan terkini telah
menyebabkan pembuatan sensor zirkonia dipanaskan dengan teknologi film tebal
pada substrat keramik [26].
6.
Sensor pompa
Elektrokimia
Ketika tegangan diterapkan untuk unsur oksida
zirkonia, memompakan oksigen melalui elektrolit padat dari katoda ke anoda.
Sensor berdasarkan fenomena ini terdiri dari unsur zirkonia keramik dengan dua
elektroda dan elemen yang membatasi difusi oksigen dari luar ke katoda. Prinsip
kerja memungkinkan pengukuran konsentrasi oksigen bahkan dalam kondisi tinggi
yang A/F dan sehingga sensor ini cocok untuk digunakan dalam sistem kontrol
pembakaran ramping.
Sensor yang digunakan dalam bidang otomotif [27,28,29]
yang diproduksi dengan teknologi film tebal dan terdiri dari unsur zirkonia
dengan elektroda di kedua belah pihak dan elemen berpori ditempatkan di antara
katoda dan gas. anoda berada dalam kontak dengan udara luar. Menerapkan
tegangan ke elektroda menyebabkan arus listrik mengalir, yang sesuai dengan
mentransfer oksigen dari gas ke eksterior. Arus mencapai nilai saturasi untuk
tegangan yang diberikan ketika jumlah oksigen dipompa dibatasi oleh difusi
proses melalui septum berpori. Dalam kondisi ini arus listrik adalah fungsi
dari konsentrasi oksigen dalam gas.
7. Sensor Knoking
Unleaded
petrols
cenderung lebih mudah menimbulkan pembakaran tidak teratur pada rasio kompresi
yang tinggi dan beban tinggi terutama ditemukan di mesin turbocharged.
Untuk menghindari fenomena seperti itu tidak lagi
cukup untuk meramalkan marjin keamanan dalam penyesuaian terlebih dahulu karena
mengelitik untuk bensin tanpa timbal menjadi kritis, tergantung pada kondisi
mesin dan bahan bakar. Oleh karena itu, kontrol umpan balik dari mengelitik,
mengoptimalkan kinerja mesin, menjadi perlu. Sensor biasanya digunakan adalah
lebar-band accelerometers dari tipe piezoelektrik ditempatkan pada bak mesin
[30]. Sensor telah dikembangkan yang menggunakan prinsip-prinsip transducing
lain seperti ionisasi dan pengukuran tekanan di ruang bakar. Pengukuran dapat
dilakukan dengan menggunakan busi yang cocok. Metode ini telah memberikan hasil
yang baik [31] memungkinkan identifikasi mengelitik pada setiap silinder dengan
sinyal/noise ratio yang lebih tinggi dari sensor accelerometric, karena mereka
bebas dari gangguan mekanis. Fenomena mengelitik juga dapat dideteksi dengan
metode yang lebih canggih seperti pengukuran tekanan langsung di ruang bakar.
Hal ini memungkinkan perhitungan jumlah lain yang digunakan dalam sistem
kontrol mesin yang sangat canggih. Saat ini, sensor murah jenis ini telah
dikembangkan [32]. Knock deteksi dan perhitungan parameter lain yang berkaitan
dengan pembakaran juga dapat diperoleh dengan cincin piezoelektrik ditempatkan
di bawah busi [33] atau di bawah pengunci kepala silinder.
Namun, tren utama disebabkan oleh peningkatan
kemampuan perhitungan produk microelectronic baru-baru ini, adalah menggunakan
salah satu sensor accelerometric sesuai ditempatkan pada bak mesin atau pada
kepala silinder. Sinyal dapat diproses bahkan dengan algoritma yang sangat
canggih.
8. Sensor mesin diesel
Pengembangan dan pengenalan sistem kontrol elektronik
untuk mesin diesel sudah jauh lebih lambat dibandingkan untuk mesin bensin.
Aplikasi pertama elektronik pompa injeksi dikontrol muncul di pasaran hanya
pada tahun 1984, pertama untuk mesin sangat berat (dalam pompa injeksi line)
dan kemudian untuk mesin mobil (pompa pemutaran dengan distributor).
Revolusi regulator mekanis yang menentukan posisi
poros pompa telah digantikan dengan sensor posisi linier, umumnya transformator
variabel perpindahan linear (LVDT) jenis [34]. Variabel yang merupakan masukan
dari sistem kontrol posisi poros pompa :
-
posisi
akselerator;
-
udara,
pendingin dan suhu bahan bakar;
-
turbocharging
dan tekanan atmosfir;
-
kecepatan poros
penggerak dan posisi sudut.
Penyesuaian injeksi pentahapan dilakukan dengan
membandingkan nilai awal injeksi nyata (SOI) dengan nilai referensi yang
optimal. The SOI dideteksi dengan sensor yang cocok termasuk elemen
piezoceramic ditempatkan di ruang injektor tekanan tinggi atau dekat yang
memperbaiki ke kepala silinder (mesin).
Sistem lain untuk pengurangan emisi polutan telah
diperkenalkan untuk jenis mesin, khususnya untuk partikulat. Perangkap dalam
bahan keramik telah diadopsi dan masih sedang dikembangkan. Sistem menggunakan
mereka membutuhkan sensor mengukur tekanan menyumbat mereka untuk mengontrol
regenerasi. Metode kedua untuk mengurangi emisi oksida nitrogen dikenal sebagai
EGR (exhaust recircuiation gas). Sistem ini dapat dikendalikan secara
elektronik, menggunakan sebuah sensor massa aliran udara dengan fungsi umpan
balik dan diagnostik direncanakan.
Di masa depan, sistem dengan injector didorong oleh
sinyal listrik yang bekerja pada solenoid akan diadopsi. Ini menentukan panjang
injeksi dan juga jumlah bahan bakar injeksi.
Tabel 1 : Pasar untuk sistem kontrol chassis
elektronik: persentase produksi kendaraan baru

Dalam sistem ini tekanan manifold tidak tergantung
kondisi eugine. sensor Asap di knalpot akan diterapkan untuk melakukan kontrol
umpan balik. Beberapa prototipe dan metode pengukuran [35-39] kini telah
dikembangkan. Namun, jenis otomotif yang dapat diandalkan sensor belum selesai.
C. SENSOR PENGENDALIAN KENDARAAN
Pasar sistem elektronik untuk pengendalian kendaraan
dengan cepat berkembang dan prakiraan mengatakan bahwa pada akhir 1990-an
pangsa pasar misi maka bo sekitar 30%; pada sistem elektronik otomotif. Tren
ini ditunjukkan dalam Tabel 1.
Di daerah kontrol mesin, pengembangan sistem baru
dipercepat oleh kebutuhan untuk membuat produk baru sesuai dengan hukum. Namun
dalam sistem kendaraan alasan utama untuk mencari solusi inovatif yang akan
ditemukan dalam persaingan di antara berbagai produsen.
Tabel 2 : Sensor yang diperlukan oleh sistem kontrol
chassis

Anti slip (ABS), four-wheel steering (4WS), four-wheel
drive (4WD) dan suspensi aktif (AS) merupakan sistem utama yang dapat
menyesuaikan perilaku kendaraan dinamis sesuai dengan harapan pelanggan. Sistem
ini cenderung untuk meningkatkan tidak hanya kinerja, tetapi juga, dan di atas
semua, kendaraan kenyamanan dan keamanan.
Manfaat yang berasal dari setiap sistem tunggal dapat
ditingkatkan dengan fungsi yang berbeda yang terintegrasi ke dalam satu sistem.
penelitian lebih lanjut tentang sensor, aktuator dan
desain mikrokontroler diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan mengurangi
biaya.
Tabel 2 daftar sensor diperlukan oleh berbagai sistem
kontrol, sensor tambahan tidak diperlukan untuk strategi sistem tetapi sangat
berguna untuk kapasitas diagnostik dan perbaikan pengendalian kinerja.
Ringkasan sensor kendaraan utama disajikan.
1. Sensor pemindahan dan sudut
Transduksi teknik untuk jenis-jenis sensor terdiri
dari dua jenis :
•
dihubungkan
dengan bagian mekanis;
•
tanpa kontak.
Sensor potensiometri adalah yang paling sering
digunakan dalam sistem kendaraan. Salah satu teknik yang paling menarik adalah
penggunaan unsur plastik konduktif dengan kursor menghubungi beberapa [40].
Kekebalan tinggi untuk parameter seperti suhu dan
gangguan elektromagnetik (EMI) karena berfungsi pasif dan ratiometric membuat
sensor ini sangat cocok untuk digunakan otomotif.
Banyak kemajuan telah dibuat dalam perlawanan geser
pakai kontak. Beberapa produsen jaminan siklus hidup lebih dari 100 juta untuk
produk mereka. Meskipun perbaikan ini, kecenderungan yang muncul dalam bidang
otomotif adalah dengan menggunakan sensor jenis baru yang tidak memerlukan
komponen mekanis dalam kontak. Terdapat teknik transducing berbeda berdasarkan
pada prinsip-prinsip fisik yang berbeda [41]:
•
magnet (efek
Hall, magnet resistif, LVDT);
•
optik
(incremental, encoders absolut);
•
kapasitif.
Semua Transduser elektronik khusus tercantum perlu
sinyal-AC dan sehingga mereka lebih sensitif terhadap gangguan suhu dan
elektromagnetik dibandingkan dengan perangkat potensiometri.
teknik deposisi film tipis dan tebal bahan
magnetoresistive tampaknya sangat menjanjikan untuk pengembangan posisi linier
dan sensor sudut yang dapat dari jenis absolut atau tambahan.
Contoh aplikasi Otomotif dari perangkat ini adalah
sensor yang menggunakan deposisi film tipis bahan ferromagnetic (MRE), yang
telah menarik karakteristik stabilitas, linieritas dan hambatan dalam kondisi
lingkungan yang kasar [42].
Kondisi lingkungan yang parah sistem kendaraan membuat
solusi optik atau kapasitif kurang cocok untuk aplikasi di area yang meskipun
ada beberapa studi tentang otomotif posisi sensor kapasitif [43].
Penggunaan no-perangkat menghubungi tetap dalam kasus
tergantung pada pencapaian biaya yang kompetitif di pasar otomotif.
2. Accelerometers
Percepatan merupakan salah satu besaran fisika yang
paling berguna untuk strategi sistem kontrol kendaraan yang berbeda. Teknologi
konstruktif paling luas memanfaatkan struktur kantilever silikon [44] atau
kantilever alumina substrat [45]. Lever deformasi lengan terdeteksi oleh teknik
kapasitif atau piezoresistif. Kisaran bunga untuk aplikasi kendaraan adalah ± 2
G dengan bandwidth 50 Hz.
Beberapa perangkat kepentingan tertentu menggunakan
metode pengukuran Komentar [46], yang bertindak atas massa seismik dengan gaya
elektrostatik yang bertentangan dengan gerakan paksa di atasnya oleh
percepatan. Oleh karena itu resolusi tinggi, waktu respon yang rendah dan
sensitivitas lintas rendah diperoleh yang merupakan beberapa syarat utama untuk
aplikasi kendaraan.
3. Gyrometers
Strategi dan sistem kontrol 4WS AS, peran yang sangat
menarik dimainkan oleh pengukuran yaw rate dan roll kendaraan. Rentang dinamis
dari parameter yang sangat luas (0,1-100deg/s), dan akurasi sensor tinggi diperlukan.
Pengembangan gyrometers untuk aplikasi on-board
memiliki pertumbuhan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Seperti halnya
solusi tradisional yang didasarkan pada perangkat mekanik (efek Coriolis) atau
yang optik (Sagnac efek) [47], solusi alternatif telah dikembangkan untuk
memenuhi persyaratan murah untuk produksi skala besar.
Penelitian yang dilakukan oleh Renault telah
menyebabkan realisasi prototipe gyrometer akustik [48] menggunakan pengukuran
efek Coriolis pada gas yang terkandung dalam rongga silinder.
Prinsip lain transduksi menarik adalah berdasarkan
perpindahan arah medan listrik pada elemen piezoelectric, karena efek Coriolis.
Struktur didasarkan pada tiga elemen keramik
piezoelektrik ditempatkan pada sisi tongkat bagian segitiga sama sisi [49].
Salah satu unsur bekerja sebagai osilator frekuensi resonansi sementara dua
lainnya mendeteksi distribusi medan listrik di bagian bar. Arah vektor medan
listrik berkorelasi dengan kecepatan rotasi dari struktur. Tidak adanya bagian
yang bergerak, kemungkinan miniaturisasi dan sensitivitas tinggi membuat solusi
ini sangat menarik untuk aplikasi otomotif masa depan.
D. SENSOR SISTEM KEAMANAN
sistem keselamatan dapat dibagi menjadi yang aktif dan
pasif. Yang pertama berfungsi untuk mencegah kecelakaan dan yang kedua untuk
mengurangi efek.
Hanya beberapa sistem pasif telah mencapai tingkat
kehandalan dan biaya yang diperlukan untuk pasar otomotif. Baru-baru ini
beberapa produsen mobil telah memperkenalkan airbag [50,51] penggerak yang
diaktifkan oleh perlambatan mendadak setelah kecelakaan. Sensor mengaktifkan
sistem terdiri dari satu atau lebih accelerometers dengan fitur kehandalan
tinggi untuk meminimalkan kemungkinan kerusakan fungsi.
Sistem keselamatan aktif lebih kompleks dan belum
mencapai tingkat keandalan yang cukup tinggi untuk membuat mereka cocok untuk
pasar otomotif. Pengembangan sensor dan sistem ini merupakan salah satu topik
proyek Prometheus Eropa [52]. Dalam proyek ini keadaan penelitian tentang
fungsi-fungsi berikut ini disajikan.
•
identifikasi
kondisi jalan;
•
penetapan
kendala
•
lokalisasi
kendaraan pada jaringan jalan.
1. Sensor deteksi Es di jalan
Koefisien pantul permukaan jalan terdeteksi melalui
sebuah sinar inframerah, laser solid-state diarahkan pada jalan dan photodetektor
yang mengukur radiasi yang dipantulkan. Panjang gelombang dipilih dalam sebuah
band menyerap dari es yang sedikit berbeda dengan air atau uap, yang
memungkinkan deteksi keberadaan es di jalan basah.
2. Kekasaran Jalan sensor
teknik yang berbeda untuk pengukuran kekasaran jalan
telah dipelajari, berdasarkan pantulan ultrasound, cahaya atau gelombang mikro.
Metodologi yang paling menjanjikan menggunakan sinyal yang datang dari
pengukuran jarak antara kendaraan dan permukaan jalan dengan cara posisi optik
sensor [53].
Namun, biaya perangkat ini masih terlalu tinggi untuk
pasar otomotif.
3. Sensor Anticollision (Gambar 7)
sistem Anticollision umumnya berdasarkan pengukuran
jarak untuk menentukan zona aman di sekitar kendaraan dan criticalities objek
sekitarnya.


Gambar 7 : Khas peta radar.
Kecepatan dan percepatan relatif dapat diturunkan dari
jenis informasi. Teknik pengukuran utama adalah optik (LIDAR), ultrasonik
gelombang mikro (radar) dan.
Sistem berdasarkan scan sinar laser memungkinkan
definisi sudut dan jarak tinggi dan tampaknya cocok untuk aplikasi cruise
control. Mereka tidak dapat digunakan dalam cuaca buruk seperti salju, kabut
dan hujan. Untuk mengatasi keterbatasan ini, radar microwave didasarkan pada
dua teknik modulasi sedang diteliti: modulasi frekuensi dan modulasi impuls.
Untuk kedua, pilihan frekuensi pembawa sangat penting karena jika menentukan
dimensi antena dan perbedaan balok. Untuk mendapatkan dimensi terbatas dan
divergencies rendah, sistem harus bekerja pada frekuensi lebih tinggi dari
20GHz. Hal ini meramalkan bahwa evolusi dari MMIC (microwave sirkuit terpadu
monolitik) akan memungkinkan perangkat masa depan untuk beroperasi pada
frekuensi yang lebih tinggi dari 35 GHz dengan produksi besar-besaran.
balok scan [54] dapat direalisasikan dalam tiga cara
berbeda :
1.
mekanis, dengan
gerakan langsung dari elemen antena atau mencerminkan;
2.
dengan
frekuensi scan (hanya untuk radar impuls);
3. bertahap array.
E. SENSOR SISTEM NAVIGASI
Dalam sistem ini informasi untuk memberikan pengemudi
adalah posisi kendaraan pada jaringan jalan, jalan terpendek untuk mencapai
suatu tujuan tertentu, data mengenai tempat parkir yang tersedia, kondisi cuaca
dan kemacetan lalu lintas atau antrian.
Sarana untuk mengumpulkan informasi didasarkan pada
sistem infrastruktur seperti satelit, sistem komunikasi radio (RDS). telepon
seluler dan teknik otonom (dead reckoning) dan menggunakan peta digital rinci untuk memecahkan
masalah ambiguitas, kalibrasi ulang dan routing [56].
Sensor digunakan untuk memberikan informasi yang
berguna untuk diintegrasikan dengan data yang terdapat dalam peta digital
adalah:
•
odometers;
•
kompas magnetik
(fluxgate);
•
gyrometers.
F. SENSOR KENYAMANAN LINGKUNGAN
sistem kontrol elektronik untuk AC memungkinkan
tingkat yang lebih tinggi dari efisiensi dan kenyamanan telah dikembangkan.
Sistem yang lebih kompleks menggunakan suhu, iradiasi matahari, kelembaban dan
sensor aliran udara.
Fungsi lain yang penting adalah pengendalian tingkat
polutan gas buang (HC, CO, NO,) di dalam kendaraan karena lalu lintas. Dalam
hal ini satu atau lebih sensor gas harus terintegrasi dalam sistem
pengkondisian untuk mendeteksi keberadaan gas tersebut dan untuk memungkinkan
unit elektronik untuk bertindak sesuai dengan strategi khusus [57].
Sensor ini harus mampu mendeteksi konsentrasi gas
berbahaya lebih rendah dari 10 ppm. Ada perangkat komersial dengan deposisi
film tebal dari Sn02 didoping dengan logam mulia dan berisi elemen
pemanas yang menjaga elemen sensitif pada suhu berfungsi (4000C).











Tidak ada komentar:
Posting Komentar